Rakor Penyusunan Data Kebutuhan Pengembangan Investasi dan Permodalan Prukades Di Daerah Tertinggal


  Selasa, 16 Oktober 2018 Kegiatan DITJENPDT

Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal Ditjen PDT melalui Subdit Investasi dan Permodalan mengadakan Rapat Koordinasi Penyusunan Data Kebutuhan Pengembangan Investasi dan Permodalan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) di Daerah Tertinggal di Jakarta, Selasa (16/10).

Rapat koordinasi ini bertujuan untuk menyediakan data dan informasi bagi investor untuk mengembangkan ekonomi lokal di daerah tertinggal kepada pihak swasta dan dunia usaha, serta sebagai bahan bagi pengambil kebijakan dalam mempercepat pembangunan daerah tertinggal melalui sektor ekonomi.

Rapat koordinasi ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Razali. Dalam sambutannya, Razali menyampaikan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk menyajikan profil suatu daerh tertinggal, baik melalui data kuantitatif maupun kualitatif yang telah diolah sehingga melalui data dan informasi tersebut pihak investor akan tertarik berinvestasi di daerah tertinggal.

Outcome yang diharapkan dari kegiatan ini adalah agar dapat menyejahterakan masyarakat di daerah tertinggal dengan salah satu indikatornya terpenuhinya kebutuhan hidup masyarakat. Oleh karena itu Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal berkewajiban melalui inovasi-inovasi untuk melahirkan ide-ide sehingga upaya menyejahterkan masyarakat menjadi nyata dilapangan.

Kegiatan ini sesuai dengan program prioritas yang di gagas Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, yaitu Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan).

Sesditjen PDT, Razali menambahkan bahwa dalam rangka mengembangkan Prukades perlu didukung data dan informasi yang akurat. Sehingga diketahui data komoditas-komoditas yang unggul di kawasan perdesaan di daerah tertinggal, seperti kopi, jagung, cokelat, alpukat dan lain sebagainya. Produk unggulan yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk fisik saja namun dalam bentuk jasa juga, seperti jasa yang berhubungan dengan pariwisata. Menurut Razali suatu produk disebut unggul apabila komoditas tersebut alam/klimatologi cocok, unggul dari segi budaya, dan unggul dari segi pasar.

Sebelum menutup sambutannya, Razali menyampaikan bahwa saat ini sudah memasuki era industri 4.0. Era ini dicirikan dengan pemakaian input IT yang massif, oleh karena itu model penyajian data ini harus berbasis digital, sehingga mudah diakses oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Sehingga jika ada pihak-pihak yang membutuhkan data ini maka dapat mengakses data tersebut dari mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.

Era digital ini didorong Direktur Jenderal PDT, Samsul Widodo, untuk bagian integral dari proses produksi, pengolahan dan pemasaran produk unggulan kawasan perdesaan di daerah tertinggal. Dengan ketersediaan data ini maka kedepannya akan dapat membantu para penggiat ekonomi digital dalam mengembangkan produk unggalan yang ada di daerah tertinggal.

Kasubdit Investasi dan Permodalan, Irwansyah Putra, mendampingi Sesditjen PDT pada acara pembukaan rapat koordinasi tersebut menyatakan bahwa melalui rapat ini kedepannya akan dapat disediakan data dan informasi di daerah tertinggal terkait ketersediaan layanan perbankan, aksesibilitas jalur logistik menuju kawasan pruduk unggulan tersebut baik jalur darat, laut dan udara, ketersediaan signal (tidak ada/2G/3G/4G) dan komoditas unggulan buah dan sayur mayur serta ikan.

Data dan informasi ini akan disajikan dalam bentuk infografis dan dituangkan dalam bentuk buku saku yang mudah dibawa kemasa saja. Buku saku ini akan ditampilkan pada setiap pameran yang akan diikuti oleh Ditjen PDT sehingga pengunjung yang hadir pada booth Ditjen PDT dengan membaca buku saku tersebut menjadi tertarik melakukan investasi ke daerah tertinggal sesuai dengan potensi yang dituangkan pada buku sakut tersebut. (GPS)