Pengembangan Daerah Tertinggal dengan Pemanfaatan Teknologi Informasi


  Senin, 26 Maret 2018 Berita DITJENPDT

SLEMAN - Pada era teknologi informasi, percepatan pengembangan ekonomi di daerah tertinggal akan sangat efektif dengan memanfaatkan teknologi digital. Data menyebutkan, tahun 2017, pengguna media sosial Facebook di Indonesia mencapai 115 user. Itu artinya Indonesia merupakan pasar yang sangat besar untuk menjadi sasaran pemasaran hasil produk daerah secara online.

Demikian diungkapkan Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Samsul Widodo dalam Diskusi Publik 'Optimalisasi dan Revitalisasi Kabupaten Daerah Tertinggal melalui Potensi Lokal' di Balai Senat Unviversitas Gadjah Mada (UGM) Bulaksumur, Sabtu (24/3/2018). Diskusi diselenggarakan Pusat Studi Agroekologi UGM.

Samsul menyontohkan salah satu kekuatan tekonologi informasi dalam perekonomian yaitu perusahaan Go-Jek yang baru mulai beroperasi 2010, namun kini punya 200.000 di 50 kota dengan valuasi saham Rp 53,3 triliun. Capaian ini melampaui peusahaan Blue Bird yang telah ada sejak 1972. Contoh aplikasi lain yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah PasarLaut.com, Growpal, Limakilo.id, Rego Pantes, Kitabisa.com dan masih banyak lagi.

Menurut Samsul, kehadiran aplikasi Limakilo atau Rego Pantes mampu mengatasi melonjaknya harga produk akibat ulah tengkulak. Lewat aplikasi ini konsumen langsung dipertemukan dengan petani sehingga didapat harga yang wajar dan menguntungkan kedua belah pihak (konsumen dan produsen).

"Percepatan pembangunan daerah tertinggal tidak hanya dilakukan dengan cara biasa, namun diperlukan implementasi teknologi dan inovasi dalam ekonomi lokal sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat," katanya.

Rektor UGM Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng mengatakan, sebagai universitas kerakyatan, UGM punya komitmen kuat menyejahterakan masyarakat dengan turut berkontribusi dalam pembangunan terutama daerah pinggiran. Menurut Panut, daerah-daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T) memiliki potensi sumber daya alam melimpah, namun belum dioptimalkan karena keterbatasan SDM.

Disinilah peran akademisi memberikan pendampingan dan arahan. "Daerah tertinggal memerlukan dukungan kebijakan agar pengembangan daerah lebih cepat," katanya.

Dikatakan Panut, Indonesia merupakan negara dengan penduduk besar yang merupakan potensi pasar luar biasa. Banyak yang telah pandai memasarkan produk secara online, sebut saja Bukalapak atau Tokopedia, namun sangat sedikit yang mampu memproduksi.

Untuk itu perlu diperkuat sistem produksi, agar bangsa Indonesia tidak hanya piawai menjual produk orang lain, tapi membuat produk sendiri. Disela diskusi publik, dilakukan penandatanganan kerja sama antara UGM dengan Pemerintah Kabupaten Sigi, Aceh Singkil, Sumba Barat Daya, Bondowoso dan PT Mustika Tama Group.

Sumber: krjogja.com