Rumput Laut, Andalan Maluku Tenggara Barat


  Rabu, 31 Januari 2018 Berita DITJENPDT

Budidaya rumput laut telah menjadi salah satu urat nadi perekonomian serta andalan bagi masyarakat di Maluku Tenggara Barat. Kegiatan rumput laut di Maluku Tenggara Barat mampu merekrut tenaga kerja sebanyak 11.516 orang dan total pembudidaya 5.177 pokdakan, salah satunya adalah masyarakat Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selaru. Namun demikian, ancaman menggejalanya penyakit “ais-ais” dikhawatirkan akan menjadi faktor penyebab berkurangnya minat masyarakat untuk melakukan usaha budidaya.  Penurunan minat sudah mulai terlihat di beberapa desa, seperti Desa Sifnana dan Saumlaki, kendati pada beberapa wilayah desa yang memang menjadi sentra-sentra produksi rumput laut di dua kecamatan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda penurunan minat, diantaranya Desa Adaut dan Namtabung.

Secara umum, rata-rata penduduk yang melakukan usaha budidaya rumput laut dapat memproduksi rumput laut kering sebanyak 238,05 kilogram untuk setiap unit tali per tahun yang dipergunakan sebagai alat/media budidaya dengan jumlah unit tali rata-rata mencapai sebanyak 38 unit tali per pembudidaya rumput laut.  Lama pemeliharaan rumput laut per musim panen dilakukan selama lebih kurang 46 hari dan setiap pembudidaya rumput laut dapat melakukan panen produksi mencapai sebanyak 6 kali panen per tahunnya.

Desa Sifnana merupakan desa yang memiliki tingkat produktivitas budidaya paling tinggi untuk setiap unit tali yang dipergunakan, yaitu sebesar 350 kg/unit tali/tahun, sedangkan Nyafar Kora merupakan unit kampung yang mempunyai produktivitas budidaya paling rendah untuk setiap unit talinya, yaitu hanya mencapai sebesar 72 kg/unit tali/tahun.

Adapun Desa Adaut dan Namtabung di Kecamatan Selaru secara keseluruhan merupakan dua desa dengan jumlah pembudidaya rumput laut terbanyak bilamana diperbandingkan dengan penduduk desa lainnya di Kecamatan Selaru maupun Kecamatan Tanimbar Selatan.  Dan ini semakin menguatkan posisinya sebanyak sentra produksi rumput laut di Kecamatan Selaru melebihi desa-desa lain di Kecamatan Tanimbar Selatan.

Kendati jumlah unit tali yang dimiliki para pembudidaya di Desa Adaut dan Namtabung bukan merupakan yang terbanyak, namun demikian dikarenakan jumlah penduduk yang terlibat dalam kegiatan budidaya cukup besar, maka kedua desa ini tumbuh menjadi desa sentra produksi rumput laut di Kecamatan Selaru dan Kecamatan Namtabung.  Sifat komunal masyarakat Adaut dan Namtabung semakin mendorong perkembangan budidaya rumput laut di kedua desa tersebut dan hal ini memberikan konsekuensi terhadap semakin mengerucutnya mata pencaharian pada bidang-bidang yang memang dinilai berhasil mendatangkan manfaat lebih besar.

Adapun Desa Sifnana, kendati jumlah pembudidayanya relatif sedikit, akan tetapi jumlah unit tali sebagai media budidaya rumput laut yang dimilikinya rata-rata mencapai sebanyak 110 unit tali.  Hal ini menandakan bahwa pembudidaya rumput laut di Desa Sifnana mempunyai ketersediaan modal lebih baik dibandingkan dengan desa lainnya dan secara nyata menunjukkan bahwa pembudidaya rumput laut di desa tersebut cenderung dikuasai oleh pemilik modal besar.

Harga rumput laut di Kecamatan Selaru dan Tanimbar Selatan sangat dipengaruhi oleh frekuensi kedatangan kapal angkutan antar pulau yang datang dan pergi dari pelabuhan barang dan orang di Saumlaki.  Oleh karena itu, harga rata-rata rumput laut sangat berfluktuasi mulai dari Rp. 5.187,50 sampai dengan Rp. 13.187,50 per kilogramnya. Perbedaan harga ditentukan oleh daerah pemasaran dan desa masing-masing.

Tingkat harga tertinggi diterima oleh pembudidaya yang berada di wilayah Desa Sifnana.  Hal ini disebabkan oleh adanya keinginan pembudidaya untuk melakukan pemasaran sendiri dengan langsung membawa hasil produksinya ke pasar Saumlaki yang memang tidak terlalu jauh dan dapat dimobilisasi dengan menggunakan kendaran roda dua dan atau roda empat melalui jalur transportasi darat.  Bilamana diperbandingkan antara harga jual rumput laut yang diterima pembudidaya di Desa Sifnana dan Saumlaki, maka terdapat margin harga hingga sebesar Rp. 2.325/kg, sedangkan untuk Desa Lermatang dan Olilit Timur margin harga yang diterima pembudidaya yang melakukan pemasaran sendiri hanya sebesar Rp. 575/kg.  Khusus untuk pembudidaya rumput laut di Desa Adaut, harga yang diterima pembudidaya relatif paling rendah dibandingkan desa lainnya.  Hal ini disebabkan oleh pemasarannya yang dilakukan bersifat setempat atau dijual kepada agen lokal.  Selain itu, jumlah pembudidaya yang merupakan paling banyak diantara desa-desa lainnya disinyalir juga merupakan salah satu penyebab penerimaan harga yang relatif rendah tersebut.

Secara umum, total produksi rumput laut di dua kecamatan (Selaru dan Tanimbar Selatan) mencapai sebanyak 11.072,48 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 60,88 milyar per tahun.  Desa Adaut dan Namtabung merupakan daerah dengan total produksi paling banyak dibandingkan desa-desa lainnya, yaitu masing-masing mencapai sebesar 7.115,06 ton dan 2.281,50 ton per tahunnya, sedangkan Kampung Nyafar Kora merupakan daerah dengan tingkat produksi terendah, yaitu hanya sebanyak 10,80 ton per tahunnya.  Banyaknya produksi masing-masing desa/kampung juga berbanding lurus dengan nilai produksinya, dimana Desa Adaut dan Namtabung merupakan yang paling tinggi yaitu masing-masing sebesar Rp. 35,58 milyar dan Rp. 14,83 milyar per tahun.

Pembudidaya rumput laut di Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selaru melakukan sistem budidaya dengan menggunakan teknik longline, baik apung maupun tancap.  Longline apung digunakan sebagai sistem budidaya di Desa Olilit Timur, Lermatang, Adaut, Nyafar Kora, Namtabung dan Matakus, sedangkan Desa Sifnana dan Saumlaki menggunakan sistem budidaya dengan longline tancap.  Rata-rata pengalaman berbudidaya berkisar antara 1-4 tahun.  Jenis rumput yang dibudidayakan hanya jenis Eucheuma cottonii dengan lama pemeliharaan berkisar antara 40-60 hari.  Adapun pasar utama yang menjadi tempat transaksi penjualan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Selaru dan Tanimbar Selatan adalah di pusat ibukota kabupaten yang terletak di Desa Saumlaki, sedangkan khusus untuk Desa Adaut, rata-rata pembudidaya menjual hasil produksinya kepada agen setempat yang pada gilirannya juga dijual ke Saumlaki.