Mengembalikan Kejayaan Bawang Putih Nasional


  Rabu, 31 Januari 2018 Berita DITJENPDT

Indonesia pernah swasembada bawang putih di era 1990-an sebelum adanya liberalisasi sektor pertanian besar-besaran di awal tahun 1998. Sejak saat itu, produksi bawang putih nasional terus menurun hingga sampai saat ini lebih dari 95% ketersediaannya diisi dan diimpor dari negara Tiongkok, India dan Mesir. Kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 500.000 ton per tahun, hanya mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sebesar 20.000 ton atau sekitar empat persen.

Harga bawang putih lokal tidak lagi mampu bersaing dengan produk impor sehingga hanya sebagian kecil petani bawang putih yang masih bergelut dalam usaha ini. Naiknya harga bawang putih pada minggu ke I dan II bulan Mei 2017 sebesar 31,5 persen menjadi rata-rata Rp. 56.907 per kg menunjukkan bahwa impor tidak menjamin harga menjadi lebih murah, bahkan disinyalir bahwa komoditas ini menjadi salah satu penyebab inflasi di bulan Mei 2017.

Hal tersebut telah mendorong pemerintah mengambil tindakan tegas dengan memasukkan bawang putih sebagai komoditas yang diatur izin impornya. Selain itu, importir diberikan kewajiban untuk melakukan pertanaman bawang putih sebanyak 5 persen dari volume impor yang diajukan.

Mereka wajib mengembangkan bawang putih dalam negeri. Bahkan Pemerintah turut mengatur Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk bawang putih yaitu sebesar Rp. 38.000. Importir hanya diperbolehkan menjual dengan harga maksimum Rp. 23.000 sehingga harga di tingkat konsumen tidak lebih dari Rp. 32.000.

Untuk mengembalikan kejayaan bawang putih nasional bukanlah pekerjaan yang mudah namun tentu saja bukan menjadi hal yang tidak mungkin. Untuk mencapai swasembada, dibutuhkan lahan seluas 100.000 hektar, dengan kebutuhan benih sebesar 89.779 ton. Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) dan SDM yang terlatih juga mutlak diperlukan untuk hasil produksi yang lebih optimal. Dengan potensi wilayah serta agroklimat yang dimiliki oleh Indonesia, Pemerintah optimis target swasembada bawang putih dapat tercapai dalam waktu tiga tahun dari sekarang.

Sembalun Titik Awal Kemandirian Bawang Putih Nasional

Untuk mengembalikan swasembada Indonesia pada bawang putih nasional tersebut, Nusa Tenggara Barat (NTB) memberi kontribusi yang cukup besar. Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu sentra bawang putih terbesar di Indonesia memiliki kontribusi sebesar 52 persen terhadap luas panen nasional. Dari total luas tanam pada tahun 2016 yaitu sebesar 426 hektar, sebagian besar ditanam dan diproduksi di Kecamatan Sembalun.

Sembalun memiliki potensi lahan sekitar 10.000 hektar untuk bawang putih namun baru sebagian kecil saja yang tergarap dikarenakan faktor ketersediaan benih dan Sumber Daya Manusianya. Terobosan dalam sektor perbenihan telah dilakukan dengan melibatkan BUMN untuk menyerap bawang putih petani untuk dijadikan benih. Tahun 2018 merupakan tahun perbenihan. Benih-benih bersertifikat dan jabal akan dipersiapkan untuk pengembangan kawasan bawang putih.

Bawang putih di Kabupaten Lombok Timur terutama di Kecamatan Sembalun telah menjadi penopang ekonomi masyarakat. Melalui intervensi lintas Kementerian/Lembaga, Sembalun bawang putih akan berkembang semakin cepat. Intervensi Kementerian/Lembaga dilakukan secara terpadu dengan berbagai fasilitas dan bantuan seperti benih, alsintan dan akses pembiayaan. Langkah ini menjadi upaya wajib untuk mewujudkan cita-cita bersama menuju swasembada bawang putih Indonesia.

Diinisiasi oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dengan menggandeng Kementerian BUMN dan Kementerian Pertanian, Pemerintah hendak mengembalikan kejayaan bawang putih Sembalun.

Menteri BUMN, Rini Soemarno memastikan bahwa pihaknya bersama jajaran BUMN terlibat dalam aksi nyata untuk pengembalian Sembalun sebagai sentra bawang putih nasional. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan para petani, juga untuk memperkuat ketahanan stok bawang putih nasional.

Pihaknyapun kata Menteri Rini siap memberikan dukungan bagi para petani untuk semangat mengembangkan lagi bawang putih di Sembalun. BUMN akan memberikan Kartu Tani dan Kredit Usaha Rakyat untuk meningkatkan produksi. Dari sisi pemasaran, Bulog juga akan menyerap hasil produksi sehingga petani mendapatkan keuntungan yang cukup.

Jika Sembalun telah berhasil dengan komoditas bawang putihnya, maka Kecamatan Sembalun bisa menjadi daerah nol miskin. Melalui komitmen dan kerja sama yang kuat antar Kementerian dan Lembaga, upaya memakmurkan para petani bisa terwujud.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pembangunan sektor pertanian NTB sangat bagus. Bahkan sudah bisa membantu Indonesia tidak impor beras dalam beberapa tahun terakhir. Ke depan, komoditas hortikultura NTB seperti bawang putih juga ditargetkan bisa menopang ketahanan stok nasional.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Pertanian membantu alsintan yang dibutuhkan oleh petani seperti traktor roda empat, handtraktor, kultivator dan pompa air. Langkah ini menjadi upaya wajib bagi Pemerintah dan pihak terkait untuk mewujudkan cita cita bersama menuju swasembada bawang putih Indonesia.

Dukungan juga diberikan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin mengatakan tahun 2017 di Provinsi NTB merupakan tahun akselerasi pelaksanaan program  menuju swasembada pangan, baik komoditas tanaman pangan dan juga komoditas hortikultura.

NTB memiliki potensi lahan yang sangat luas. Tercatat terdapat 256.229 hektare lahan sawah dan 1.288.731 hektare lahan bukan sawah. Sembalun sendiri merupakan daerah yang spesifik. Selain menjadi daerah pengembangan pertanian dataran tinggi, juga salah satu tujuan wisata yang sangat diminati wisatawan domistik dan mancanegara. Sembalun bahkan belum lama ditetapkan sebagai Destinasi Bulan Madu Halal Terbaik Dunia.

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB sangat berkepentingan agar komoditas hortikultura di Sembalun bisa saling menopang dengan sektor pariwisata desa yang menjadi pintu pendakian utama ke Gunung Rinjani ini.

Pengembangan pertanian holtikultura khususnya bawang putih di Kabupaten Lombok Timur sendiri mengalami beberapa persoalan. Biaya produksi dan biaya transportasi yang mahal menjadikan para petani bawang putih kesulitan untuk berkembang. Pasalnya, dengan kondisi geografis Kecamatan Sembalun juga berpengaruh terhadap kemudahan transportasi angkutan hasil produksi para petani.

Untuk ongkos produksi menanam 1 hektar lahan bawang putih setidaknya dibutuhkan dana Rp. 100-110 juta. Demikian diungkapkan Risbaini, Ketua Kelompok Tani Lendang Luar Sembalun. “Ongkosnya tinggi, untuk bibit pupuk dan juga operasional. Sementara produktivitas kita disini rata-rata hanya 25 ton sampai 30 ton per hektar. Dengan adanya bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah, kami pikir petani lebih tertarik untuk menanam bawang putih lagi," katanya.

Risbaini menjelaskan, saat ini ada sekitar 79 kelompok tani di Kecamatan Sembalun, dengan anggota total mencapai 800 orang. Namun yang masih aktif menanam bawang putih hanya 200-an orang, sisanya lebih memilih menanam komoditi hortikurtura lainnya seperti padi dan jagung.

Selain biaya produksi dan transportasi, para petani juga belum memiliki ruang penyimpanan atau gudang yang memadai ketika panen. Ini menjadi satu persoalan tersendiri karena hasil panennya hanya digantung begitu saja tanpa diberikan perlakuan penyimpanan yang layak. Lebih lanjut, masih tradisionalnya pola pikir petani setempat, membuat penanganan pasca panen yang belum optimal.

Bawang Putih, Prukades Desa Sembalun

Fokus pada potensi yang dimiliki diyakini bisa menjadi salah satu peluang untuk memajukan desa yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat setempat. Daerah yang memiliki potensi pertanian harus benar-benar menggarap potensi tersebut. Pasalnya, sebagian besar daerah di Indonesia berpotensi di sektor pertanian.

Manfaat dari fokus pada satu produk unggulan telah dirasakan petani di Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur. Fokus pada satu produk merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Para petani di Desa Sembalun Lawang fokus mengembangkan bawang putih sebagai produk unggulan desa. Dampaknya pun semakin dirasakan, khususnya peningkatan pendapatan masyarakat.

Menurut Ketua Kelompok Tani Lembah Pusuk, Indriati, tambahan pendapatan para petani meningkat rata-rata minimal 25 persen atau minimal sekitar Rp 30 juta-Rp 45 juta. Itu baru dari bawang putih saja. Dengan luas mencapai 200 hektar, para petani mampu memproduksi hingga 17 ton tiap hektarnya dengan masa panennya tercatat tiap 3,5 bulan.

Indriati yang juga menjadi penyuluh pertanian mengakui, kemauan warga untuk fokus mengembangkan bawang putih sempat meredup karena persoalan penyakit tanaman dan fluktuasi harga.

Para petani pun sempat menanam cabai dan sayuran. Namun semangat untuk mengembangkan bawang muncul kembali karena keyakinan akan ciri khas produk unggulan pertanian Desa Sembalun yang tak dimiliki daerah lainnya. Terlebih, tambahan pendapatan yang dirasakan.

Varietas unggulan di Desa Sembalun Lawang adalah bawang putih Sangga Sembalun, yang aroma dan pedasnya lebih kuat. Jika bawang putih lain butuh 10 siung, bawang putih Sangga Sembalun hanya butuh 3 siung. Dengan keunggulan tersebut, produk bawang putih Desa Sembalun banyak dipasok ke daerah lain.

Bawang Putih Sangga Sembalun pernah dikirim ke Bali hingga 37 ton, Bima 8 ton, Kupang 2 ton, dan Kalimantan 1,5 ton. Meski demikian, tahun ini Desa Sembalun ingin memfokuskan pada pengembangan dan pemenuhan stok daerah Sembalun itu sendiri. Cita-cita Desa Sembalun dengan pengembangan produk unggulannya adalah menjadi sentra bawang putih dan memenuhi stok nasional.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, menekankan pentingnya setiap desa untuk fokus mengembangkan produk unggulan desa. Ia meyakini jika setiap desa fokus, maka akan memberi dampak positif, khususnya peningkatan pendapatan masyarakat.

“Dengan fokus pada produk unggulan, maka skala produksinya akan semakin besar. Saya yakin sarana pascapanen akan masuk, gudang juga tersedia, sehingga para petani saat panen tak pusing lagi tentang harga. Pendapatan juga bisa meningkat,” ujar Menteri Eko usai menanam bawang putih bersama Menteri BUMN, Rini Soemarno dan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman di Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur, Rabu (24/5).

Selain fokus pada satu produk, Menteri Eko juga meminta agar desa-desa di Nusa Tenggara Barat untuk membuat embung. Hal tersebut akan membantu mendorong produktivitas pertanian dengan meningkatkan masa panen menjadi hingga empat kali panen dalam setahun. Infrastruktur embung dapat dibangun dengan mengalokasikan dana desa sebesar Rp 200 juta-Rp 500 juta. Hal tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017.

Prioritas penggunaan dana desa tahun 2017 diutamakan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan yang bersifat lintas bidang, terutama bidang kegiatan BUMDesa atau BUMDesa Bersama, embung, produk unggulan desa atau kawasan perdesaan dan sarana olahraga desa.